Minggu, 12 Februari 2012

Bagaimana Sang Buddha Wafat


Oleh: Dr. Bhikkhu Mettanando

Selama hari Vesak (Waisak), kita telah diberitahu bahwa hari itu juga merupakan hari dimana Sang Buddha mencapai Parinibbana. Tetapi tidak banyak orang mengetahui bagaimana Sang Buddha wafat. Teks-teks kuno menampilkan dua kisah tentang wafatnya Sang Buddha. Apakah wafatnya Sang Buddha direncanakan dan merupakan kehendak Sang Buddha, atau apakah karena keracunan makanan, atau ada hal lain yang berkaitan satu sama dengan yang lain ? Inilah jawabannya.

Mahāparinibbāna Sutta, yang merupakan kotbah panjang dalam Tipitaka Pali, tidak diragukan lagi merupakan sumber yang paling dapat dipercaya untuk perincian atas wafatnya Siddhattha Gotama (563-483 SM), Sang Buddha. Mahāparinibbāna Sutta disusun dalam bentuk naratif yang membiarkan para pembaca untuk mengikuti kisah hari-hari terakhir Sang Buddha, yang dimulai dari beberapa bulan sebelum Beliau wafat.

Meditasi – Dhamma Yang Hidup


Oleh: Y.M. Ajahn Chah

Para pencari kebajikan yang telah berkumpul di sini, mohon dengarkanlah dengan tenang. Mendengarkan Dhamma dengan tenang artinya mendengarkan dengan pikiran yang terpusat, memperhatikan apa yang kalian dengar dan kemudian melepaskannya. Mendengarkan Dhamma sangatlah bermanfaat. Ketika mendengarkan Dhamma, kita diajak untuk secara teguh membuat tubuh dan pikiran berada dalam keadaan samadhi, karena ia merupakan salah satu dari praktek Dhamma. Pada zaman Sang Buddha, orang-orang mendengarkan khotbah Dhamma dengan sungguh-sungguh, dengan pikiran yang bertekad untuk memahami segala sesuatu dengan sebenar-benarnya, dan ada di antara mereka yang benar-benar menyadari dan memahami Dhamma ketika sedang mendengarkan.

Kisah Menteri Santati

Suatu ketika Menteri Santati berhasil kembali dari penumpasan pemberontak di perbatasan. Raja Pasenadi begitu bangga terhadapnya, memberi kekayaan dan kegemilangan kepada menterinya serta mengadakan pesta selama 7 hari dengan para gadis penari. Selama tujuh hari menteri itu bersenang-senang, bermabuk-mabukan, dan bergembira dengan gadis-gadis penari muda belia.

Pada hari ketujuh, dengan menunggang gajah kerajaan, dia pergi mandi ke tepi sungai. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Sang Buddha yang sedang berpindapatta.

Are you ready to face the sunset?

By Sayalay Dipankara 

We have seen the sun rise (birth) 
Kita telah melihat Sang Matahari terbit ( Kelahiran )

Now we are using up the energy from the sun (aging) 
Sekarang kita sedang menghabiskan energi Sang Mentari ( Pelapukan )

Soon the sun will be setting (death) 
Sang Mentari akan segera terbenam ( Kematian )

Satu Dhamma


Oleh: YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera

Selama ini, kita mengenal adanya 2 tradisi besar dalam agama Buddha yaitu tradisi Theravada dan tradisi Mahayana yang seakan-akan berbeda, padahal keduanya adalah sama, yaitu sama-sama membawa kita mengapai kebahagiaan hingga akhirnya tercerahkan.

KEBIJAKSANAAN PENGGALI TAMBANG

Ada beberapa penggali tambang. Setiap hari mereka bekerja dalam tambang. Karena tambang itu kaya mineral alam, maka sudah beberapa tahun mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa semakin digali tambang tersebut semakin dalam. Hari itu mereka berada di dasar terdalam dari tambang itu.

DONG GOU & SRIGALA


Dong Guo sedang melakukan perjalanan menuju negri Zhong San untuk mengurus sesuatu. Ia berjalan kaki sementara di punggung keledai nya ada beberapa buku dan barang” bawaan lainnya. Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya Dong Guo sadar bahwa dia sudah salah jalan & tersesat.

Sementara ia bingung arah yg seharusnya ditempuh, seekor serigala mendatanginya. Serigala itu berseru,” Tolong selamatkan aku, Tolong selamatkan aku!”
Dong Guo balik bertanya, “Ada masalah apa dengan mu, apa yg membuat kamu minta tolong kepada saya?”.